Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

ceritakOE™

Blog EntrySep 27, '06 5:30 AM
for everyone

“Manusia Ekologi” vs “Manusia Ekonomi”?

[sedikit catatan dari diskusi Indonesia Endangered Species Day, diselenggarakan oleh UKF-IPB dan ALAMI, 16 September 2006]

 

 

  • Pemahaman yang kurang tepat 

Pada suatu kesempatan diskusi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bogor, tersebutlah dalam kata sambutan dari seorang ahli setempat yang mengatakan bahwa “Kita manusia yang tinggal di kota adalah manusia ekonomi, berbagai hal dinilai dengan uang”.  Disebutkan pula bahwa “Jauh dari kota, di suatu tempat pinggiran hutan biasanya manusia di sana adalah manusia ekologi, mereka sejak dulu sudah memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya secara langsung, Sehingga hal tersebut adalah normal, dan tidak perlu dilarang.  Misalnya masyarakat lokal yang masih mengkonsumsi satwa liar tertentu, seperti Yaki.  Itu adalah alami, tidak perlu dilarang.  Biarkanlah mereka berkembang sebagai manusia ekologi”.

 

Apakah pernyataan tersebut tepat dan arif?

Jawabannya adalah relatif, namun secara umum bisa dikatakan kurang tepat.  Kita setuju pernyataan bahwa masyarakat tradisional, pada umumnya masih memiliki berhubungan yang kuat dalam pemanfaatan hutan dan sumberdaya alam lainnya.  Mereka umumnya memiliki norma adat atau kearifan tradisional yang mereka yakini.  Hal tersebut memang hak mereka, dan tetap mempertimbangkan keseimbangan alam adalah catatan utamanya.

 

 

  • Prinsip keseimbangan “ekonomi” dan “ekologi”: sebuah dinamika 

Ketika kita membicarakan fenomena ekologi, yang di dalamnya ada keseimbangan alami dari semua komponen ekosistem yang ada di dalamnya, maka kurang tepat untuk melihat ekonomi dan ekologi dari sudut yang berlawanan.  Justru sudut pandang harus kita ubah, kita harus lihat bahwa manusia, sebagai makhluk beradab dan mengklaim memiliki kecerdasan paling tinggi di antara makhluk lainnya, maka ketika memanfaatkan sumberdaya alam atau dengan kata lain sebagai manusia ekonomi, tetap juga tetap mempertimbangkan keseimbangan ekologi.  Perlu diingat, bahwa keseimbangan ekologi juga bergeser dengan berjalannya waktu.  Mungkin pernyataan bahwa suatu kelompok masyarakat yang mengkonsumsi Yaki itu adalah manusia ekologi yang tidak perlu dilarang, adalah tepat pada waktu populasi manusia di tempat tersebut masih belum terlalu besar, sumberdaya alam masih cukup melimpah, populasi Yaki pun bisa seimbang kembali.  Pernyataan menjadi kurang tepat ketika hal tersebut terjadi pada saat ini, dimana pemanfaatann sumberdaya alam terjadi secara berlebihan.  Kemampuan alam untuk merespon kepada kondisi yang seimbang juga terbatas, demikian pula pemulihan populasi Yaki secara alami.  Pada tataran ini, mereka sudah tidak berbeda dengan yang dimaksud sebagai manusia ekonomi.  Yang berbeda hanyalah tempat di mana proses tersebut berlangsung.  Konsep mereka sebagai manusia ekologi sudah bergeser.

 

Lalu apa yang terjadi?  Justru itulah, sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara konsep ekologi dan ekonomi.  Kita sebagai manusia adalah sekaligus berperan sebagai keduanya, sebagai manusia ekonomi dan ekologi.  Oleh karena itu, kalau dilihat dari prinsip pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan, maka dirasa perlu ada pendekatan baru dalam pemanfaatan tersebut, di samping norma-norma yang ada.  Keseimbangan ekosistem tetap harus dipertahankan.

 

Kalau pun manusia harus mengkonsumsi daging, kalau bisa dari jenis yang bisa dibudidayakan kenapa tidak?  Kenapa harus memburu satwaliar?  Apalagi jenis tersebut sudah termasuk jenis dilindungi Undang-undang oleh Pemerintah RI.  Termasuk juga keperluan “tengkorak” Yaki untuk upacara adat, haruskah tengkorak yang asli dari hasil berburu di alam?  Atau barangkali bisa dibuat tengkorak imitasi dari bahan resin?

 

Belum lagi masalah potensi penularan penyakit dengan mengkonsumsi daging satwaliar dari alam, adalah hal lain yang perlu dipertimbangkan.

 

 

  • Hakekat pemahaman keseimbangan alam dan fitrah manusia sebagai khalifah 

Hal-hal tersebut bukankah berarti membatasi pemanfaatan sumberdaya alam?  Bukannya kita diperbolehkan memanfaatkan alam ini?

Benar, kita tidak bisa hidup tanpa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada.  Namun sekali lagi, kita sebagai makhluk berbudaya yang dikaruniai akal dan fikiran, akan lebih arif dan bijaksana apabila kita juga memperhatikan kesinambungan dalam pemanfaatan.  Bahasa kerennya ikut berpartisipasi dalam konservasi, karena hakekat konservasi bukan hanya melindungi tetapi juga memanfaatkan dengan prinsip kelestarian.

 

Adalah menarik ketika ada pertanyaan, “Mengapa kita mesti mendiskusikan tentang perlunya perlindungan satwaliar?  Bukannya sudah cukup kepada alasan tentang hak hidup semua satwa dan bahwa manusia diperintahkan Tuhan untuk tidak membunuh segala makhluk yang hidup?”

 

Kembali, kita diuji tentang pertanyaan mendasar, dan tidak bisa lagi dibicarakan tentang manusia ekologi dan manusia ekonomi.  Namun demikian ternyata manusia memang sangat unik.  Bahkan untuk sesuatu yang sudah jelas digariskan dalam perintah Penciptanya pun, kenyataannya masih terjadi kerusakan akibat ekploitasi sumberdaya alam yang berlebihan. 

 

Ada beberapa pendekatan yang harus kita fahami ketika kita sebagai manusia melakukan hubungan dengan manusia lainnya.  Perlu pula disadari bahwa tingkat kepekaan dan pemahaman masing-masing kita sebagai manusia pun cukup beragam.  Apalagi di jaman informasi global seperti saat ini, berbagai macam informasi seperti berlomba “menghantam” masyarakat, baik itu informasi yang bersifat positif maupun negatif.  Sepertinya, kalau masyarakat tidak dibantu dengan berbagai informasi yang berfungsi untuk menyaring arus informasi yang cukup deras tadi, maka “kerusakan global” juga akan semakin cepat terjadi.

 

 

  • Dimulai dari diri kita 

Disadari ataupun tidak, dengan kemampuan manusia yang memiliki kelebihan dari makhluk lainnya, yaitu berkomunikasi dan berfikir, bisa menimbulkan sisi positif dan negatif.  Manusia cenderung meniru satu sama lain, bahkan ada yang mengatakan, hal positif hanya ditiru 50%-nya, sedangkan hal negatif ditiru 2 kali lebih banyak [200%].  Betapa dahsyat percepatan “kerusakan global” yang akan terjadi kalau kita berfikir dan bertindak secara gegabah dan tidak bijaksana dalam menyikapi berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita.  Jelaslah, tidak bisa dipertentangkan antara konsep manusia ekonomi dan ekologi lagi.

 

Kegiatan diskusi, seminar dan segala bentuknya dimaksudkan untuk selalu menularkan semangat akan kebaikan, hidup dengan prinsip menjaga keseimbangan alam dan pemanfaatan yang berkelanjutan.  Mulai dari pengenalan terhadap berbagai fenomena alam yang bisa dilogika ataupun “belum bisa dilogika”, hingga pemahaman proses alam tersebut dengan respon akhir yang diharapkan adalah partisipasi langsung dalam bentuk apapun yang direalisasikan dalam fakir, sikap dan perilaku sehari-hari.  Penting juga untuk saling berbagi pengalaman, mengasah kepekaan dan kemampuan, serta belajar berfikir dan berkomunikasi secara positif.

 

Kita tidak bisa berharap banyak terhadap orang lain, termasuk di dalamnya masyarakat luas, pemerintah, akademisi, pengusaha ataupun kelompok manusia lainnya.  Satu-satunya yang bisa kita harapkan, dan kalau perlu dengan sedikit pemaksaan, adalah diri “kita” sendiri.  Atau lebih tepatnya adalah “saya”.  Segala sesuatu dimulai dari diri sendiri ataupun “saya” tadi, baik itu menjadikan lebih baik ataupun lebih buruk, “saya” juga yang menentukan.  Namun yang perlu diingat, “saya” tidak akan bisa mengharap keadaan menjadi lebih baik tanpa usaha  dari “saya”, sementara “saya” sendiri belum baik.  Dikatakan pula bahwa nasib suatu “kaum”, merekalah yang menentukan, bukan Tuhan.

 

Harapan terakhir, diri sendiri tetap baik dan selalu berupaya menjadi lebih baik, semoga akan menular dan menjadikan lingkungan sekitar juga lebih baik, hingga lingkungan yang lebih besar lagi.  “Kerusakan global” bisa ditekan, keseimbangan alam tetap terjaga.

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk berpartisipasi?

 

    

 

 

kuswandono@yahoo.com

 

note: original pictures of orangutan taken from www.cockroach.org.uk | use with permission from Nick & Evie

 

 


Yth. rekan-rekan [ex?] Volunteer Schmutzer,
Salam Lestari,
 
Diingatkan kembali kepada rekan-rekan Volunteer Schmutzer yang berminat mengikuti kegiatan:
"primate behavior & ecology field course 2006" yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Satwa Primata IPB [PSSP-IPB] untuk segera mengirimkan "tulisan" yang berisikan 2 hal pokok, yaitu:
  1. alasan apa kelebihannya [manfaat lebih], sehingga "Anda" yang dipilih untuk dikirim mengikuti kegiatan tersebut;
  2. tema apa yang akan diteliti dalam praktek pengamatan primata yang akan dilakukan di Pulau Tinjil tersebut.
"Tulisan" tersebut mohon dikirim ke alamat email kuswandono@yahoo.com paling lambat tanggal 18 Juni 2006
 
Seperti yang pernah disepakati bersama bahwa 2 [dua] orang rekan yang akan dikirim untuk kegiatan ini adalah rekan-rekan [ex?] Volunteer Schmutzer yang terpilih berdasarkan seleksi dari bobot dan nilai manfaat seperti yang ditunjukkan dalam "tulisan".  Nama 2 orang yang terpilih akan diumumkan pada akhir Juni melalui milis ini.
 
Program ini merupakan tindak lanjut dari program ex Divisi Edukasi & Komunikasi PPS-TMR dalam meningkatkan kapasitas SDM Volunteer, meskipun Divisi Edukasi & Komunikasi PPS-TMR "sudah tidak ada" pada saat ini, kegiatan tersebut tetap diadakan, tetapi tidak lagi mengatasnamakan Pusat Primata Schmutzer-TMR.
 
Informasi dan Ketentuan lain:
  • Periode pelaksanaan kegiatan di lapangan : 20 Agustus - 11 September 2006
  • Berangkat dari PSSP-IPB : 19 Agustus 2006
  • Tempat : Muara Binuangeun dan Pulau Tinjil, Lebak, Banten
  • Materi : teori dan praktek dengan pengantar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia
  • Total Peserta : maksimum 19 orang, dari berbagai instansi dalam negeri, beberapa mahasiswa dari luar negeri
  • Instruktur : Dr. Randall C. Kyes [Univ. of Washington] dan Ir. Entang, MS. [PSSP-IPB]
  • Fasilitas : transportasi dan akomodasi dari PSSP-IPB, Muara Binuangeun dan Pulau Tinjil, sertifikat
  • Persiapan pribadi : surat keterangan sehat dari dokter, rontgen paru-paru dan perlengkapan/ obat pribadi
  • Membuat laporan singkat hasil kegiatan
Well, tetap semangat dan ditunggu "nyali" rekan-rekan untuk memperkaya pengalaman lapangan tentang satwa primata.
 
Salam
 
KUSwandono

Blog EntryJan 9, '06 4:50 AM
for everyone

Karsa Luhur andodosken wikaryan ingkang rineksa

 

gingsiring surya pinangka wiyosing ratri

wektu lumaku kaya ubenge cakra manggilingan

mbanyu mili datan supe ing pakulinan

 

gancang-ginancang playuning bayu datan ana rubeda

anggepok pucuking gegodhongan

sato, kutu, walang pating kriyep

nambah kahanan nyenyet

 

kajaba lumering gendhing manca negari

linaras puspaning manah anggagas sejatining hurip

26 warsa niwang yuswa

anggayuh luhuring becik

karana tindak budi marang sepadha

karsa kang luhur datan laku nistha

sumarak dening rumangsa asoring kuwasa niwang

marang Gusti murbeng dumadi

ingkang tansah prapteng luhuring manah

ingkang wiku marang sarwa kedaden

andadosken wadag rumaos…..

ora duwe daya linuwih

kejapa tansah minta sraya, sabar lan manembah

eling marang kang sejatining wiku

karana mulyaning hurip donya lan kelanggengan

rinaos sareng bapa-biyung, sanak-kadang,

garwa, anak lan titah sepadha

ingkang katindak dening ngelmu winarah

 

madyaning ratri katandha munggahing candra setengah yuswa

anggagas, amanah apa kang wis linaku

kanggo pangenget marang tindak mburi

andadosken wasesaning atur kang tansah kagagas

 

 

 

[agustus 1994 | © kuswandono]

 



Blog EntryDec 24, '05 3:51 AM
for everyone

Sekedar Oleh-oleh dari Aichi, Jepang

[kuswandono@yahoo.com | mataELANG | TNGH | Pusat Primata Schmutzer]

 

pics of : The 2005 World Exposition, Aichi, Japan [Expo 2005]

 

Pagi-pagi pesawat Singapore Airlines mendarat di Central Japan International Airport [Centrair] Nagoya.  Setelah melalui pengecekan dokumen keimigrasian, mampir sebentar ke meja karantina hewan dan tumbuhan untuk memastikan bahwa contoh [sample] beberapa ”biji terbang” Dipterocarpaceae dan contoh beberapa jengkal ”duri rotan” benar-benar legal sesuai ketentuan yang berlaku.  Hal ini penting dilakukan, sehubungan material contoh tersebut akan kami gunakan sebagai alat peraga dalam program pendidikan konservasi di booth kami, di NGO Global Village.  Sambil menunggu Masa san, mitra kami dari Whole Earth Nature School menjemput, saya sempatkan berkeliling di areal bandara yang benar-benar baru karena memang dipersiapkan untuk menyambut The 2005 World Exposition, Aichi, Japan [Expo 2005].  Di sana-sini terdapat poster dan umbul-umbul tentang Expo serta beberapa rombongan wisatawan tua-muda bersama pimpinan rombongannya yang membawa bendera berteriak-teriak mengumpulkan dan memandu anggotanya. 

Dari bandara ke kota Nagoya kami menggunakan kendaraan massa kereta api kurang lebih sekitar satu jam.  Kami menginap di sebuah penginapan kecil di dekat pusat kota Nagoya yang sudah kami book sejak beberapa bulan yang lalu.  Jarak dari stasiun kereta bawah tanah terdekat hanya sekitar 20 menit dengan berjalan kaki, ini cukup strategis karena kereta bawah tanah inilah yang akan kami gunakan setiap hari untuk menuju lokasi Expo yang akan memakan waktu sekitar satu jam.  Penginapan relatif kecil tapi cukup nyaman, fasilitas juga cukup lengkap.  Tempat mandi bersama tipikal Jepang yang untuk saya selalu membuat kagok, mesin cuci dan pengering pakaian, kotak mesin minuman ringan sampai sarapan pagi ala Jepang yang kebanyakan menyajikan makanan yang dingin.  Suhu udara yang masih cukup dingin mencapai 5ºC memaksa saya menggunakan pakaian berlapis-lapis.  Berjalan kaki ke stasiun kereta setiap pagi sangat membantu menghangatkan badan yang kedinginan.  Hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk mencari dan belajar banyak pengalaman baru, berkenalan dan diskusi tentang banyak hal dengan teman baru ..... dan menunggu mekarnya si cantik imut Sakura.

 

Tentang Aichi Expo : Nature’s wisdom

Abad 20 menunjukkan formasi baru dari perkumpulan global.  Hal ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang cukup pesat, perkembangan alat transportasi berkecepatan tinggi dan evolusi tehnologi informasi dan komunikasi yang mempercepat akselerasi pertukaran global manusia, barang dan informasi secara tidak terduga.  Dunia benar-benar berubah. 

Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan yang bahkan terkadang melampaui kapasitas pemulihan diri dari lingkungan tersebut.  Akibatnya adalah bahwa kita harus berhadapan dengan sejumlah krisis dunia. 

Perjalanan waktu akhirnya menyadarkan manusia pada awal abad 21 ini untuk bekerjasama dengan keselarasan harmoni untuk semua kehidupan di bumi.  Itulah puncak pandangan global.

Expo 2005 mengambil tema ”nature’s wisdom”, mencoba menjawab beberapa tantangan di atas, mengajak manusia hidup damai dalam kesetaraan bersama seluruh kehidupan di muka bumi, berbuat arif bijaksana terhadap alam dan lingkungan.

Peserta dalam Expo 2005 terdiri dari perwakilan dari berbagai negara, wilayah, perusahaan swasta, masyarakat independen, NGO/NPO [LSM] dan volunteer yang menjadi tulang punggung dalam perkumpulan global tersebut, yang akan menganyam benang persatuan untuk menghasilkan kain persaudaraan yang mengagumkan di muka bumi. 

Expo 2005 diselenggarakan di 2 lokasi yang berdekatan, yaitu di Nagakute dan di Seto yang saling dihubungkan dengan kereta gantung bernama Morizo gondola lift, kesemuanya ada di dekat Nagoya.  Area ekspo Nagakute terdiri dari Paviliun Swasta, Paviliun Negara peserta [Global Common, ada 6 area], Zona Jepang, Zona Pusat, Zona Permainan Interaktif [di dalamnya terdapat NGO Global Village] dan Zona Pengalaman Hutan [Forest Experience Zone].  Kesemua zona ditata dengan layout yang cukup menarik pada tanah berbukit ringan.  Untuk menghubungkan antar zona dibuat jalan yang cukup lebar yang disebut global loop yang dapat dilalui pengunjung dengan berjalan kaki ataupun menggunakan semacam sepeda becak, kereta ramah lingkungan ataupun bus hybrid otomatis tanpa pengemudi.  Bisa juga menggunakan Kiccoro gondola lift yang menghubungkan stasiun selatan dengan stasiun utara di area Nagakute.  Tentu saja untuk menggunakan fasilitas tersebut perlu membayar.  Tiket masuk pun kalau menurut ukuran kantong kita relatif sangat mahal untuk sekali masuk, ada pula tiket berlangganan untuk jangka waktu tetentu, karena Expo 2005 diselenggarakan selama 6 bulan [25 Maret – 25 September 2005]. 

Dari segi persiapan sepertinya Expo 2005 dipersiapkan dengan matang dan cukup profesional.  Penataan zona, papan informasi di lokasi dan sejak dari bandara, transportasi umum pun cukup informatif dan komunikatif.  Untuk orang yang tidak bisa bahasa Jepang dan membaca huruf kanji terbantu dengan informasi bahasa Inggris. Keamanan tidak luput dari perhatian, baik untuk pengunjung umum maupun peserta ekspo, kartu pass harus selalu dipakai dan terlihat jelas pada masing-masing individu peserta.  Untuk yang senang berbelanja suvenir, hampir disetiap sudut dapat dijumpai kedai suvenir yang terkait dengan Expo 2005 ini dengan rapi.  Kenyamanan juga cukup diperhatikan; toilet, mesin minuman ringan panas dan dingin, tempat duduk istirahat, areal khusus merokok, peta lokasi dan segala macamnya.  Patut diacungi jempol adalah hampir semua lokasi dapat dijangkau oleh pengunjung dengan antrian tertib, bahkan pengunjung dengan kursi roda pun tidak mengalami hambatan.  Satu pelajaran berharga yang dapat diambil : kedisiplinan yang tinggi.

Morizo dan Kiccoro adalah maskot Expo 2005 ini, yang dilambangkan oleh 2 mahluk berbentuk pohon besar hijau tua [Morizo] dan pasangannya pohon kecil hijau muda [Kiccoro] yang bersahabat dan menyenangkan bagi yang melihatnya, apalagi anak-anak.  Maskot ini juga merupakan simbolisasi dari tema ekspo yang berbicara tentang kearifan alam.

Republik Indonesia juga merupakan salah satu negara yang ikut mengirim perwakilannya dan menempati Pavilion Indonesia berada di Global Common 6, di sebelah atas zona Jepang.  Dari semua bentuk displai yang dipajang diawali dengan koridor dikelilingi dengan berbagai gambar flora dan fauna langka Indonesia, seperti badak Jawa, orangutan dan lainnya.  Sedikit kaget, terlihat menggantung beberapa pot tanaman kantong semar asli, terpikir dari wilayah mana tanaman tersebut didapat, bagaimana cara membawanya dan apakah setelah Expo 2005 berakhir tanaman tersebut akan kembali dibawa ke Indonesia dan dikembalikan ke tempat asalnya?  Di bagian tengah pavilion ada beberapa ornamen asli Indonesia, langit-langit dipenuhi layang-layang raksasa dari Bali.  Terdapat pula dinding dengan layar besar untuk memutar film informasi tentang Indonesia.  Ternyata di balik tersebut adalah ruang kantor dimana staf Pavilion Indonesia duduk-duduk dan mengobrol, memang ketika berkunjung ke pavilion RI beberapa kali, jarang sekali bertemu staf yang memberikan informasi/ interpretasi, sekali dua bertemu petugas yang menjual suvenir.  Pernah secara resmi kami memperkenalkan ke pimpinan pavilion dengan harapan untuk mampir dan menengok booth di NGO Global Village, sepertinya mereka masih sibuk.

Sedikit kecewa terobati ketika mengikuti program Nature Experience yang ditawarkan, baik di area Nagakute [Forest Nature school – morino sideng gaku] maupun area Seto [Village Nature school].  Saya coba sempatkan mengikuti kedua-duanya.  Pengalaman pendidikan konservasi lingkungan di Jepang memang patut kita acungi jempol, banyak hal baru saya pelajari di sini.  Program cukup sederhana, kuncinya adalah ”pengalaman” atau experience.  Peserta diajak mengalami langsung tentang sesuatu hal, sehingga pemahaman pun akan mudah dicapai.  Meskipun programnya cukup sederhana, namun sepertinya cukup dipersiapkan dengan matang baik dari segi program itu sendiri, materi pendukung serta volunteer yang menjadi interpreter.  Dengan penuh menjiwai merekan menjalankan program tersebut yang diikuti anak-anak maupun orang dewasa.  Cukup profesional!

Sedikit catatan dari penyelenggaraan Expo 2005, lepas dari isu yang beredar bahwa sebelum Expo 2005 berlangsung ada protes dari kalangan LSM lingkungan di Jepang karena areal yang dipakai ekspo adalah kawasan hutan, sebagai konsekuensinya mesti ditebang sebagian dengan menyisakan beberapa kawasan tetap berhutan.  Yang sedikit menggelitik dan menjadi pertanyaan adalah banyaknya fasilitas [pavilion, koridor jalan, jembatan, gerbang dan lainnya] banyak menggunakan bahan kayu, entah berapa kubik kayu, berapa batang pohon yang ditebang; setelah ekspo berakhir bahan-bahan tersebut akan didaur ulang?  Hutan kembali ditanam?  Atau kawasan tersebut menjadi peruntukan lain?

 

NGO Global Village

Sekali lagi, lepas dari isu di atas, kita sambut niat baik untuk melibatkan masyarakat melalui LSM [NGO] dalam Expo 2005. Ini merupakan pertama kalinya ekspo taraf Internasional yang melibatkan LSM untuk berkumpul bersama.

Selama jangka waktu ekspo 6 bulan, setiap bulannya ada 5 unit organisasi, organisasi asli Jepang yang diberi hak untuk mengajak mitranya dari seluruh dunia.  Jadi paling tidak ada 80 organisasi yang mengikuti kegiatan tersebut.  Sungguh konsep yang unik, karena untuk hal tersebut prosesnya sudah dimulai sekitar setahun sebelumnya dengan meminta data yang cukup detail.

Komposisi peserta setiap bulannya pun cukup menarik dan beragam.  Panitia mengusahakan keterwakilan materi program yang diikusertakan setiap bulannya.  Diharapkan dari sejumlah LSM yang aktif tergabung akan bersama-sama pada abad 21 ini dengan konsep yang sama ”belajar untuk keberlanjutan” [learning for sustainibility].  Pada periode bulan pertama, April ada 5 unit organisasi yang bekerjasama mengisi NGO Global Village, yaitu:

1.       okazaki takumi no kai / Korean Craftmens Association [South Korea]; menampilkan hasil kerajinan tradisional berupa ukiran kayu, lukisan tradisional, pahatan batu dan lainnya.

2.       ECOPLUS / The Missing Link – Society for Environment and Communication [India], Russian Mission Community Group [USA]; menampilkan program kerjasama antar budaya, khususnya anak-anak dari berbagai penjuru dunia untuk semakin bersahabat dengan alam dan lingkungan.

3.       Medecins Sans Frontieres Japon / Medecins Sans Frontieres [France]; menampilkan usaha-usaha kemanusiaan dalam menolong pengungsi baik akibat perang maupun bencana alam di seluruh dunia.

4.       AINU Association of Hokaido Kushiro Branch / Abu-Ali Education and Community Development Project [Thailand]; menampilkan kearifan masyarakat lokal dengan budaya masing-masing dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungan.

5.       NPO Institute of Whole Earth / mataELANG [Indonesia]; menampilkan program pendidikan konservasi lingkungan kepada anak-anak khususnya dengan pendekatan pemahaman sederhana fenomena alam sekitar kita melalui pengalaman.

 

NPO Institute of Whole Earth dan mataELANG

Diawali tawaran kerjasama sekitar satu setengah tahun yang lalu dari Masa san atas nama Whole Earth Nature School yang pada waktu itu bertugas sebagai short term expert bidang ekowisata dalam proyek kerjasama JICA dengan TN Gunung Halimun, Biodiversity Conservation Project.  Karena temanya kerjasama LSM, maka dipilihlah mataELANG yang masih erat kaitannya dalam rencana pengembangan kerjasama dengan TNGH pada masa mendatang.  Dalam kegiatan ekspo ini juga turut didukung oleh TN Gunung Halimun serta Gunung Halimun-Salak National Park Management Project-JICA. 

Konsep program yang coba dibuat adalah melalui pendekatan pemahaman sederhana fenomena alam di sekitar kita melalui pengalaman langsung.  Pengunjung baik anak ataupun dewasa yang masuk akan ”merasakan” ukuran tubuhnya mengecil, seukuran semut, bahkan ”tetes air” buatan pun terlihat cukup besar.  Dengan penyusunan displai seperti itu diharapkan pengunjung akan merasakan seakan-akan terkadang sebagai semut, kadang sebagai lebah, kadang sebagai capung atau kupu-kupu.  Berbagai material sederhana untuk belajar mengenal alam disusun dengan cukup menarik, sehingga pengunjung menjadi penasaran untuk mencoba mengetahui dan menemukan jawaban dari fenomena tersebut.  Pertanyaan dalam bentuk kuis yang ringan juga merupakan tantangan yang menarik, khususnya bagi anak-anak usia SD.  Kejadian keseharian di Indonesia terkadang menjadi suatu hal yang sangat lucu dan menarik bagi anak-anak Jepang.  Bahkan untuk seorang yang cukup usia sekalipun, banyak hal keseharian di Indonesia yang coba ditampilkan mengingatkan mereka pada kondisi Jepang ketika mereka masih anak-anak.  Sungguh suatu proses belajar yang cukup menarik.

Bermain sampil belajar merupakan ide menarik untuk mengajak pengunjung mengenal dan memahami fenomena alam sekitar kita, yang terkadang tidak kita hiraukan.  Ini penting karena dengan memahami proses yang ada di alam, kita akan respek kepada alam.  Tindakan yang kurang bersahabat dengan alam pun akan malu untuk dilakukan.

Dalam kesempatan ekspo ini juga dibuat ”pojok kemanusiaan” sebagai solidaritas atas kejadian gempa bumi dan tsunami di Aceh.  Ternyata masyarakat Jepang masih cukup ingat dengan pengalaman kejadian tsunami yang melanda sebagian wilayah Jepang pada waktu silam.  Masa san, sekitar seminggu sebelum pelaksanaan ekspo baru kembali dari Aceh untuk mengemban misi solidaritas kemanusiaan atas nama NPO Institute of Whole Earth.  Sehingga sulit dilupakan baginya kondisi saudara kita di Aceh yang cukup memprihatinka, khususnya anak-anak yang masih akan menempuh ”perjalanan hidup” yang panjang ke depan dan pastilah memerlukan uluran bantuan apapun bentuknya.  Tanggapan pengunjung booth kami pun cukup positif akan hal ini.

 

Sepertinya banyak juga ”PR” yang mesti dikerjakan setelah program ekspo, saya dan mataELANG bertanggung jawab melanjutkan program pendidikan konservasi lingkungan di Indonesia, khususnya sekitar tempat kami berada.  Kerjasama lanjutan juga merupakan amanat dari Expo 2005 ini.  Kerjasama yang saling menghargai, saling menghormati dalam kesetaraan tanpa kecurigaan.  Karena kami pun sadar betul, dari bangsa yang berbeda, budaya berbeda pastilah banyak hal yang menjadi tantangannya.  Namun hal tersebut janganlah membuat kendur semangat, karena kita adalah perkumpulan global.  Harus kita buang jauh-jauh ego pribadi dan keras kepala demi terciptanya satu bumi yang tenteram untuk semua mahluk.  [k]

pics of : The 2005 World Exposition, Aichi, Japan [Expo 2005]