Sekedar Oleh-oleh dari Aichi, Jepang
[kuswandono@yahoo.com | mataELANG | TNGH | Pusat Primata Schmutzer]
pics of : The 2005 World Exposition, Aichi, Japan [Expo 2005]
Pagi-pagi pesawat Singapore Airlines mendarat di Central Japan International Airport [Centrair] Nagoya. Setelah melalui pengecekan dokumen keimigrasian, mampir sebentar ke meja karantina hewan dan tumbuhan untuk memastikan bahwa contoh [sample] beberapa ”biji terbang” Dipterocarpaceae dan contoh beberapa jengkal ”duri rotan” benar-benar legal sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini penting dilakukan, sehubungan material contoh tersebut akan kami gunakan sebagai alat peraga dalam program pendidikan konservasi di booth kami, di NGO Global Village. Sambil menunggu Masa san, mitra kami dari Whole Earth Nature School menjemput, saya sempatkan berkeliling di areal bandara yang benar-benar baru karena memang dipersiapkan untuk menyambut The 2005 World Exposition, Aichi, Japan [Expo 2005]. Di sana-sini terdapat poster dan umbul-umbul tentang Expo serta beberapa rombongan wisatawan tua-muda bersama pimpinan rombongannya yang membawa bendera berteriak-teriak mengumpulkan dan memandu anggotanya.
Dari bandara ke kota Nagoya kami menggunakan kendaraan massa kereta api kurang lebih sekitar satu jam. Kami menginap di sebuah penginapan kecil di dekat pusat kota Nagoya yang sudah kami book sejak beberapa bulan yang lalu. Jarak dari stasiun kereta bawah tanah terdekat hanya sekitar 20 menit dengan berjalan kaki, ini cukup strategis karena kereta bawah tanah inilah yang akan kami gunakan setiap hari untuk menuju lokasi Expo yang akan memakan waktu sekitar satu jam. Penginapan relatif kecil tapi cukup nyaman, fasilitas juga cukup lengkap. Tempat mandi bersama tipikal Jepang yang untuk saya selalu membuat kagok, mesin cuci dan pengering pakaian, kotak mesin minuman ringan sampai sarapan pagi ala Jepang yang kebanyakan menyajikan makanan yang dingin. Suhu udara yang masih cukup dingin mencapai 5ºC memaksa saya menggunakan pakaian berlapis-lapis. Berjalan kaki ke stasiun kereta setiap pagi sangat membantu menghangatkan badan yang kedinginan. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk mencari dan belajar banyak pengalaman baru, berkenalan dan diskusi tentang banyak hal dengan teman baru ..... dan menunggu mekarnya si cantik imut Sakura.
Tentang Aichi Expo : Nature’s wisdom
Abad 20 menunjukkan formasi baru dari perkumpulan global. Hal ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang cukup pesat, perkembangan alat transportasi berkecepatan tinggi dan evolusi tehnologi informasi dan komunikasi yang mempercepat akselerasi pertukaran global manusia, barang dan informasi secara tidak terduga. Dunia benar-benar berubah.
Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan yang bahkan terkadang melampaui kapasitas pemulihan diri dari lingkungan tersebut. Akibatnya adalah bahwa kita harus berhadapan dengan sejumlah krisis dunia.
Perjalanan waktu akhirnya menyadarkan manusia pada awal abad 21 ini untuk bekerjasama dengan keselarasan harmoni untuk semua kehidupan di bumi. Itulah puncak pandangan global.
Expo 2005 mengambil tema ”nature’s wisdom”, mencoba menjawab beberapa tantangan di atas, mengajak manusia hidup damai dalam kesetaraan bersama seluruh kehidupan di muka bumi, berbuat arif bijaksana terhadap alam dan lingkungan.
Peserta dalam Expo 2005 terdiri dari perwakilan dari berbagai negara, wilayah, perusahaan swasta, masyarakat independen, NGO/NPO [LSM] dan volunteer yang menjadi tulang punggung dalam perkumpulan global tersebut, yang akan menganyam benang persatuan untuk menghasilkan kain persaudaraan yang mengagumkan di muka bumi.
Expo 2005 diselenggarakan di 2 lokasi yang berdekatan, yaitu di Nagakute dan di Seto yang saling dihubungkan dengan kereta gantung bernama Morizo gondola lift, kesemuanya ada di dekat Nagoya. Area ekspo Nagakute terdiri dari Paviliun Swasta, Paviliun Negara peserta [Global Common, ada 6 area], Zona Jepang, Zona Pusat, Zona Permainan Interaktif [di dalamnya terdapat NGO Global Village] dan Zona Pengalaman Hutan [Forest Experience Zone]. Kesemua zona ditata dengan layout yang cukup menarik pada tanah berbukit ringan. Untuk menghubungkan antar zona dibuat jalan yang cukup lebar yang disebut global loop yang dapat dilalui pengunjung dengan berjalan kaki ataupun menggunakan semacam sepeda becak, kereta ramah lingkungan ataupun bus hybrid otomatis tanpa pengemudi. Bisa juga menggunakan Kiccoro gondola lift yang menghubungkan stasiun selatan dengan stasiun utara di area Nagakute. Tentu saja untuk menggunakan fasilitas tersebut perlu membayar. Tiket masuk pun kalau menurut ukuran kantong kita relatif sangat mahal untuk sekali masuk, ada pula tiket berlangganan untuk jangka waktu tetentu, karena Expo 2005 diselenggarakan selama 6 bulan [25 Maret – 25 September 2005].
Dari segi persiapan sepertinya Expo 2005 dipersiapkan dengan matang dan cukup profesional. Penataan zona, papan informasi di lokasi dan sejak dari bandara, transportasi umum pun cukup informatif dan komunikatif. Untuk orang yang tidak bisa bahasa Jepang dan membaca huruf kanji terbantu dengan informasi bahasa Inggris. Keamanan tidak luput dari perhatian, baik untuk pengunjung umum maupun peserta ekspo, kartu pass harus selalu dipakai dan terlihat jelas pada masing-masing individu peserta. Untuk yang senang berbelanja suvenir, hampir disetiap sudut dapat dijumpai kedai suvenir yang terkait dengan Expo 2005 ini dengan rapi. Kenyamanan juga cukup diperhatikan; toilet, mesin minuman ringan panas dan dingin, tempat duduk istirahat, areal khusus merokok, peta lokasi dan segala macamnya. Patut diacungi jempol adalah hampir semua lokasi dapat dijangkau oleh pengunjung dengan antrian tertib, bahkan pengunjung dengan kursi roda pun tidak mengalami hambatan. Satu pelajaran berharga yang dapat diambil : kedisiplinan yang tinggi.
Morizo dan Kiccoro adalah maskot Expo 2005 ini, yang dilambangkan oleh 2 mahluk berbentuk pohon besar hijau tua [Morizo] dan pasangannya pohon kecil hijau muda [Kiccoro] yang bersahabat dan menyenangkan bagi yang melihatnya, apalagi anak-anak. Maskot ini juga merupakan simbolisasi dari tema ekspo yang berbicara tentang kearifan alam.
Republik Indonesia juga merupakan salah satu negara yang ikut mengirim perwakilannya dan menempati Pavilion Indonesia berada di Global Common 6, di sebelah atas zona Jepang. Dari semua bentuk displai yang dipajang diawali dengan koridor dikelilingi dengan berbagai gambar flora dan fauna langka Indonesia, seperti badak Jawa, orangutan dan lainnya. Sedikit kaget, terlihat menggantung beberapa pot tanaman kantong semar asli, terpikir dari wilayah mana tanaman tersebut didapat, bagaimana cara membawanya dan apakah setelah Expo 2005 berakhir tanaman tersebut akan kembali dibawa ke Indonesia dan dikembalikan ke tempat asalnya? Di bagian tengah pavilion ada beberapa ornamen asli Indonesia, langit-langit dipenuhi layang-layang raksasa dari Bali. Terdapat pula dinding dengan layar besar untuk memutar film informasi tentang Indonesia. Ternyata di balik tersebut adalah ruang kantor dimana staf Pavilion Indonesia duduk-duduk dan mengobrol, memang ketika berkunjung ke pavilion RI beberapa kali, jarang sekali bertemu staf yang memberikan informasi/ interpretasi, sekali dua bertemu petugas yang menjual suvenir. Pernah secara resmi kami memperkenalkan ke pimpinan pavilion dengan harapan untuk mampir dan menengok booth di NGO Global Village, sepertinya mereka masih sibuk.
Sedikit kecewa terobati ketika mengikuti program Nature Experience yang ditawarkan, baik di area Nagakute [Forest Nature school – morino sideng gaku] maupun area Seto [Village Nature school]. Saya coba sempatkan mengikuti kedua-duanya. Pengalaman pendidikan konservasi lingkungan di Jepang memang patut kita acungi jempol, banyak hal baru saya pelajari di sini. Program cukup sederhana, kuncinya adalah ”pengalaman” atau experience. Peserta diajak mengalami langsung tentang sesuatu hal, sehingga pemahaman pun akan mudah dicapai. Meskipun programnya cukup sederhana, namun sepertinya cukup dipersiapkan dengan matang baik dari segi program itu sendiri, materi pendukung serta volunteer yang menjadi interpreter. Dengan penuh menjiwai merekan menjalankan program tersebut yang diikuti anak-anak maupun orang dewasa. Cukup profesional!
Sedikit catatan dari penyelenggaraan Expo 2005, lepas dari isu yang beredar bahwa sebelum Expo 2005 berlangsung ada protes dari kalangan LSM lingkungan di Jepang karena areal yang dipakai ekspo adalah kawasan hutan, sebagai konsekuensinya mesti ditebang sebagian dengan menyisakan beberapa kawasan tetap berhutan. Yang sedikit menggelitik dan menjadi pertanyaan adalah banyaknya fasilitas [pavilion, koridor jalan, jembatan, gerbang dan lainnya] banyak menggunakan bahan kayu, entah berapa kubik kayu, berapa batang pohon yang ditebang; setelah ekspo berakhir bahan-bahan tersebut akan didaur ulang? Hutan kembali ditanam? Atau kawasan tersebut menjadi peruntukan lain?
NGO Global Village
Sekali lagi, lepas dari isu di atas, kita sambut niat baik untuk melibatkan masyarakat melalui LSM [NGO] dalam Expo 2005. Ini merupakan pertama kalinya ekspo taraf Internasional yang melibatkan LSM untuk berkumpul bersama.
Selama jangka waktu ekspo 6 bulan, setiap bulannya ada 5 unit organisasi, organisasi asli Jepang yang diberi hak untuk mengajak mitranya dari seluruh dunia. Jadi paling tidak ada 80 organisasi yang mengikuti kegiatan tersebut. Sungguh konsep yang unik, karena untuk hal tersebut prosesnya sudah dimulai sekitar setahun sebelumnya dengan meminta data yang cukup detail.
Komposisi peserta setiap bulannya pun cukup menarik dan beragam. Panitia mengusahakan keterwakilan materi program yang diikusertakan setiap bulannya. Diharapkan dari sejumlah LSM yang aktif tergabung akan bersama-sama pada abad 21 ini dengan konsep yang sama ”belajar untuk keberlanjutan” [learning for sustainibility]. Pada periode bulan pertama, April ada 5 unit organisasi yang bekerjasama mengisi NGO Global Village, yaitu:
1. okazaki takumi no kai / Korean Craftmens Association [South Korea]; menampilkan hasil kerajinan tradisional berupa ukiran kayu, lukisan tradisional, pahatan batu dan lainnya.
2. ECOPLUS / The Missing Link – Society for Environment and Communication [India], Russian Mission Community Group [USA]; menampilkan program kerjasama antar budaya, khususnya anak-anak dari berbagai penjuru dunia untuk semakin bersahabat dengan alam dan lingkungan.
3. Medecins Sans Frontieres Japon / Medecins Sans Frontieres [France]; menampilkan usaha-usaha kemanusiaan dalam menolong pengungsi baik akibat perang maupun bencana alam di seluruh dunia.
4. AINU Association of Hokaido Kushiro Branch / Abu-Ali Education and Community Development Project [Thailand]; menampilkan kearifan masyarakat lokal dengan budaya masing-masing dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungan.
5. NPO Institute of Whole Earth / mataELANG [Indonesia]; menampilkan program pendidikan konservasi lingkungan kepada anak-anak khususnya dengan pendekatan pemahaman sederhana fenomena alam sekitar kita melalui pengalaman.
NPO Institute of Whole Earth dan mataELANG
Diawali tawaran kerjasama sekitar satu setengah tahun yang lalu dari Masa san atas nama Whole Earth Nature School yang pada waktu itu bertugas sebagai short term expert bidang ekowisata dalam proyek kerjasama JICA dengan TN Gunung Halimun, Biodiversity Conservation Project. Karena temanya kerjasama LSM, maka dipilihlah mataELANG yang masih erat kaitannya dalam rencana pengembangan kerjasama dengan TNGH pada masa mendatang. Dalam kegiatan ekspo ini juga turut didukung oleh TN Gunung Halimun serta Gunung Halimun-Salak National Park Management Project-JICA.
Konsep program yang coba dibuat adalah melalui pendekatan pemahaman sederhana fenomena alam di sekitar kita melalui pengalaman langsung. Pengunjung baik anak ataupun dewasa yang masuk akan ”merasakan” ukuran tubuhnya mengecil, seukuran semut, bahkan ”tetes air” buatan pun terlihat cukup besar. Dengan penyusunan displai seperti itu diharapkan pengunjung akan merasakan seakan-akan terkadang sebagai semut, kadang sebagai lebah, kadang sebagai capung atau kupu-kupu. Berbagai material sederhana untuk belajar mengenal alam disusun dengan cukup menarik, sehingga pengunjung menjadi penasaran untuk mencoba mengetahui dan menemukan jawaban dari fenomena tersebut. Pertanyaan dalam bentuk kuis yang ringan juga merupakan tantangan yang menarik, khususnya bagi anak-anak usia SD. Kejadian keseharian di Indonesia terkadang menjadi suatu hal yang sangat lucu dan menarik bagi anak-anak Jepang. Bahkan untuk seorang yang cukup usia sekalipun, banyak hal keseharian di Indonesia yang coba ditampilkan mengingatkan mereka pada kondisi Jepang ketika mereka masih anak-anak. Sungguh suatu proses belajar yang cukup menarik.
Bermain sampil belajar merupakan ide menarik untuk mengajak pengunjung mengenal dan memahami fenomena alam sekitar kita, yang terkadang tidak kita hiraukan. Ini penting karena dengan memahami proses yang ada di alam, kita akan respek kepada alam. Tindakan yang kurang bersahabat dengan alam pun akan malu untuk dilakukan.
Dalam kesempatan ekspo ini juga dibuat ”pojok kemanusiaan” sebagai solidaritas atas kejadian gempa bumi dan tsunami di Aceh. Ternyata masyarakat Jepang masih cukup ingat dengan pengalaman kejadian tsunami yang melanda sebagian wilayah Jepang pada waktu silam. Masa san, sekitar seminggu sebelum pelaksanaan ekspo baru kembali dari Aceh untuk mengemban misi solidaritas kemanusiaan atas nama NPO Institute of Whole Earth. Sehingga sulit dilupakan baginya kondisi saudara kita di Aceh yang cukup memprihatinka, khususnya anak-anak yang masih akan menempuh ”perjalanan hidup” yang panjang ke depan dan pastilah memerlukan uluran bantuan apapun bentuknya. Tanggapan pengunjung booth kami pun cukup positif akan hal ini.
Sepertinya banyak juga ”PR” yang mesti dikerjakan setelah program ekspo, saya dan mataELANG bertanggung jawab melanjutkan program pendidikan konservasi lingkungan di Indonesia, khususnya sekitar tempat kami berada. Kerjasama lanjutan juga merupakan amanat dari Expo 2005 ini. Kerjasama yang saling menghargai, saling menghormati dalam kesetaraan tanpa kecurigaan. Karena kami pun sadar betul, dari bangsa yang berbeda, budaya berbeda pastilah banyak hal yang menjadi tantangannya. Namun hal tersebut janganlah membuat kendur semangat, karena kita adalah perkumpulan global. Harus kita buang jauh-jauh ego pribadi dan keras kepala demi terciptanya satu bumi yang tenteram untuk semua mahluk. [k]
pics of : The 2005 World Exposition, Aichi, Japan [Expo 2005]